virtuality #1
Slides from Dalam Layar 2020 session

























Slides from Dalam Layar 2020 session

























Sennett, Richard. The Fall of Public Man. London: Penguin, 2002.

Buku ini adalah sebuah sejarah sosial dari kota-kota Eropa di abad 19.
Studi ini dilatarbelakangi oleh tiga pengaruh perubahan besar di abad 19, yaitu:
Secara metodologi, Sennett berkontribusi pada bagaimana studi sejarah memberi makna atau pemahaman bagi kehidupan kontemporer. Unit analisis yang digunakan oleh Sennett ada dua; materialisme Karl Marx dan spirit kapitalisme Max Weber. Materialisme Marx dipergunakan ketika membahas unit analisis mengenai kelas. Spirit kapitalisme Max Weber dipergunakan untuk membahas unit analisis personalitas individu. Kedua unit analisis ini diperlukan ketika diskursus politik atau sosial berbaur dengan terminologi psikologi.
...
Mei 2019 (update : 8 Juli 2020)
Tulisan ini merupakan sekelumit renungan dari ekskursi ke beberapa karya arsitektur Romo Mangunwijaya yang diadakan pada awal 2019. Tulisan ini berawal dari sebuah retrospeksi yang kemudian berlanjut pada bagaimana gagasan-gagasan yang terkandung pada arsitektur Romo Mangunwijaya dapat mengkini dan berkelanjutan.
Perjumpaan saya dengan gagasan-gagasan dan arsitektur Romo Mangunwijaya (selanjutnya disingkat R.M) bermula dari semasa saya masih menjalani perkuliahan strata satu di salah satu perguruan tinggi program studi arsitektur di masa tahun 1990-an. Pada masa sebelum kelulusan, saya bersama teman-teman saya mengadakan perjalanan menyusuri Pulau Jawa dan ketika singgah di Yogyakarta, saya berjumpa pertama kali secara langsung dengan ruang dan sosok fisik arsitektur R.M.. Sendangsono, Gereja Maria Asumpta,Kampung Kali Code adalah...
Meski ini secara definisi adalah sebuah bentuk kecintaan terhadap diri sendiri. Ini adalah bentuk kebanggaan yang serupa dengan ‘pride’. Kecintaan yang lahir dalam bentuk kebanggaan terhadap diri sendiri. Diri, termasuk aspek tubuh di dalamnya, menjadi objek kebanggaan. Tubuh kemudian menjadi site bagi kebanggaan itu.
Saya tidak membahas media di mana narcissistic dilakukan. Air adalah media Narcissus pada mitos Yunani. Cermin pada cerita Snow White. Fotografi dan handphone pada fenomena sekarang. Yang menarik perhatian saya adalah tubuh sebagai site kecintaan dan kebanggaan diri ini. Wajah adalah elemen utama yang sering tampil sebagai manifestasi kebangaan ini.
Saya jadi teringat pada seri Polaroids yang dihasilkan oleh Andy Warhol yang menggunakan dirinya sebagai objek. Andi Warhol menggunakan tubuhnya, wajahnya, untuk menjadi site olahan, sebuah site bagi desain yang mengungkap...
Mendengar kata ‘perang’, saya akan mengasosiasikan kata ini sebagai sebuah hasil. Hasil dari apa? Hasil dari sebuah hubungan yang setidaknya melibatkan dua pihak (atau bahkan bisa lebih). Sebuah hubungan dengan nilai-nilai yang memiliki pertentangan, ketidaksepakatan, ketidakkompakkan, ketidakharmonisan, melibatkan menang dan kalah, mengerasnya intensitas dikotomis atau singkatnya adalah : konflik. Dua pihak ini tidaklah melulu selalu antara dua subjek atau manusia.
Dalam tatatan paling personal, keterbatasan fisik manusia dihadapkan dengan dengan batas eksistensinya; kematian. Dalam situasi sekarang (Maret, 2020), dunia sedang dihadapkan pada situasi penuh dengan ketakutan dan konflik yang diakibatkan oleh wabah penyakit. Saya teringat pada sebuah lukisan oleh Brueghel the Elder yang berjudul The Triumph of Death (1562). Kita tidak membahas detail lukisan ini, namun terdapat gambaran...
Pride (gengsi) adalah perasaan kepuasan terhadap sebuah pencapaian. Hal ini menandai bahwa perasaan ini diperoleh dengan relasi ketergantungan terhadap sebuah hasil. Hasil yang dilakukan oleh diri sendiri (karya seni, prestasi sekolah, dll) atau dilakukan oleh perwakilan dari diri atau extended self (prestasi tim olah raga, rekor atau penghargaan, dll). Pride adalah proses objektifikasi.
Di dunia seni, sebagai contoh, sering Pablo Picasso berpose dalam foto dengan pose bangga yang memperlihatkan ruang kerjanya, karya-karyanya dan proses dia bekerja. Dalam foto-foto itu kita akan melihat objek. Objek-objek yang kemudian melekat dan berelasi makna dengan subjek penciptanya. Pride tidak muncul, kalau objek tidak diceritakan bersama subjeknya.

Karya arsitektur adalah objek meruang. Pride bisa melekat pada dirinya; baik oleh penciptanya, atau penggunanya. Pride menjadi meruang bersama...
I belong to the campus life. Typically my classes are one design studio, and one or two theory classes. Most of the time I enjoy experiencing how the students coming up to the studio or classes. They’ve been going through different obstacles; the resistance of the traffic, public transportations, the necessity of breakfasts, the ‘panda-eyes’ due to the traces of sleepless gaming or Korean-drama binging. But sure, I know the truth, they’ve been doing their assignments.
I teach architecture. We usually begin from Vitruvius triads; venustas-utilitas-firmitas. You might have doubts that Vitruvius’ idea of the bases of architecture is a necessary thing to learn in our contemporary lives, but yes, it is necessary. Architecture is about shared ideas and knowledges that comes to the construction of buildings; of forms and spaces. Architecture is about sharing space, as well as sharing time...
Sulit memahami Žìžek? Mungkin. Maka dari itu saya bermula dari karya terbarunya yang ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Berikut adalah catatan saya ketika membaca bukunya Pandemic: COVID 19
Shakes the world. Pembacaan ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang dilakukan pada tanggal 4 Mei 2020.

Di sini, metoda saya sederhana, saya membuat grafik ‘mind map’ yang memudahkan saya pribadi untuk membaca tiap chapternya. Peta ini sederhana, ia menyampaikan kutub-kutub yang ekstrem dari hal-hal yang disampaikan Žìžek. Dia suka membuat paradoks, dan membuat pembaca/pendengarnya kritis terhadap para ekstrem itu. Semoga peta ini juga memudahkan yang lain juga.

Let’s start,
Intro:

“Touch me not” >> bentuk semangat kecintaan pada kemanusiaan adalah dengan menghindari sentuhan…sebuah keniscayaan keinginan untuk mengapai keintiman yang tidak dapat diraih dalam bentuk keingintahuan...
the students can be categorised upon two axis. the conformity and the energy , . . curious to see what’s coming up from this.

Tonight I’m struck by a text by my favourite author: Vilem Flusser.
He wrote a fascinating chapter regarding the gesture of photography. The last sentence of the chapter is spot on:
… photography as a gesture of looking, of “theoria.”
So simple, so true, so elegant.
But that last sentence is only becoming a beginning of something bigger.. the very heart of the problem of looking. … the very problem of attention … the very problem of consciousness, the very problem of knowledge,.. the very problem of channeling ourselves between the outer and the inner world… the very problem of our spirituality; the very problem of our soul.
Theoria (θεωρία) is Greek for contemplation.
It corresponds to the Latin word contemplatio, “looking at”, “gazing at”, “being aware of,” … theologia, as “reasoning or discussion concerning the Deity”
Tonight, is going to be a very valuable reading night for me.
...